Hadits Hari Ini

Tampilkan postingan dengan label akidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akidah. Tampilkan semua postingan
Pahala Memaafkan





Pahala Memaafkan



Di antara pereda amarah yang lain adalah mengingat pahala memaafkan serta ganjaran bagi yang mau memberikan ampunan. Dengan begitu, ia mampu mengalahkan amarahnya lantaran mengharap pahala tadi serta takut terhadap celaan dan hukuman yang bisa diterima. Rasulullah saw. bersabda, "Pada hari kiamat ada yang menyeru, 'Siapa yang memiliki pahala di sisi Allah, hendaknya berdiri.' Maka, orang-orang yang dahulu memaafkan manusia manusia berdiri.' Setelah itu ia membaca ayat, 'Siapa yang memaafkan dan memperbaiki, pahalanya ada pada Allah.'" (QS.Asy-Syuura:40)

Terkait dengan tawanan Ibnu al-Asy'asts, Raja bin Haywah berkata kepada Abdul Malik bin Marwan, "Allah telah memberimu kemenangan yang kau inginkan. Maka, berikan kepada Allah maaf yang dia sukai." Rasulullah saw. bersabda, 
"Kebaikan terwujud dalam tiga hal. Siapa yang memilikinya maka imannya sempurna: (1) orang yang apabila ridha, sikap ridha nya tersebut tidak mengantarkannya pada yang batil; (2) yang apabila marah, maka marah tersebut tidak mengeluarkannya dari kebenaran; (3) yang apabila kuasa ia tetap memberikan maaf.". (HR.Abu Dawud)

Seseorang mengungkap sebuah perkataan kepada Umar bin Abdul Aziz. Mendengar hal itu Umar berujar, "Engkau ingin setan memprovokasi diriku untuk meraih mulianya kekuasaan lalu aku mendapatkan darimu sekarang sesuatu yang akan kaudapat esok. Pergilah semoga Allah merahmatimu."



























Referensi : 
Laa Taghdhab JANGAN MARAH | Dr. Aidh al-Qarni
Apa itu Ibadah ?




Apa itu Ibadah ?


Makna dari tiada tuhan selain Allah ialah bahwasanya ilah itu adalah dzat yang disembah oleh hati, yakni dzat yang diibadahi oleh hati dengan penuh rasa cinta, ketundukan, rasa takut, penuh harap, rasa cemas, pasrah, merendahkan diri dihadapan-Nya, memelas kepada-Nya, bersandar pada-Nya, dan itu semua tidak sepantasnya dicurahkan kepada yang lain kecuali hanya kepada Allah 'Azza wa Jalla saja sebagai Pencipta Segala sesuatu, Yang Membentuk rupa segalanya, Yang Membolak-balikan semuanya, Yang Mengatur seluruhnya, Yang Mengawali penciptaan makhluk-Nya dan Membangkitkannya krmbali, Yang Kuasa untuk berbuat apa yang Dia kehendaki, dan tidak ada upaya dan daya melainkan dengan izin-Nya.

Ibadah adalah tujuan Allah menciptakan makhluk-Nya dan perjanjian yang diambil oleh Allah atas makhluk-Nya. Karena ibadah itulah Dia mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Karena-Nya pula, Dia menciptakan dunia dan akhirat, serta surga dan neraka. Ibadah adalah istilah yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah 'Azza wa Jalla berupa ucapan dan perbuatan, baik lahir maupun batin. Alasan dari adanya ibadah ialah sebagai puncak cinta dan ketundukan. Ibadah tidak bermanfaat tanpa salah satu dari keduanya. Karena itulah dikatakan bahwa barangsiapa beribadah kepada-Nya dengan cinta, rasa takut, dan harap maka ia adalah seorang mukmin yang bertauhid.

Ibadah zahir seperti melafalkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa, haji, jihad dijalan Allah, amar makruf nahi munkar, membantu orang yang mengalami masalah, menolong orang yang terzalimi, mengajarkan kebaikan kepada orang lain, menyeru ke jalan Allah, menyambung silaturahmi, menegakkan keadilan diantara sesama makhluk diatas muka bumi, membimbing masyarakat kepada kebenaran, berbakti kepada kedua orang tua, memberi nafkah keluarga, dan membantu pekerjaan mereka, berakhlak baik terhadap orang lain, dan ibadah-ibadah lainnya yang sesuai dengan syariat islam.
Adapun ibadah batin seperti Iman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, takdir baik dan buruk, rasa takut kepada Allah, perasaan cemas terhadap-Nya, penuh harap kepada-Nya, pasrah kepada-Nya, hasrat dan risau kepada-Nya, cinta dan benci karena-Nya, kasih sayang dan permusuhan karena-Nya, dan ibadah lain yang termasuk perkara-perkara hati.

Ibadah memiliki dua rukun, yaitu ikhlas dan benar. Hakikat dari ikhlas adalah seorang hamba hanya meniatkan amalnya untuk keridhaan Allah 'Azza wa Jalla dan mengharapkan akhirat. Allah Ta'ala berfirman:
"Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat." (QS.Asy-Syura:20)"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) diakhirat kecuali neraka, dan sia-sialah disana apa yang telah mereka usahakan (didunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan." (QS.Hud:15-16)

Dalam Shahihain dari Umar bin Khattab r.a. berkata,
"Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda: Sesungguhnya amal perbuatan itu hanya tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang hnya mendapatkan apa yang telah dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju dalam hijrahnya."

Di dalam Sahih Muslim dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW. bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk fisik kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian." (HR.Muslim)

Dalam hadits lain riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Musa r.a. berkata bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang seseorang yang berperang karena keberaniannya, berperang karena semangatnya, dan berperang karena pamer, manakah diantara ketiganya yang berperang di jalan Allah? Kemudian Rasulullah SAW. menjawab: "Siapa saja yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi maka ia berada dijalan Allah."
Hadits diatas adalah hakikat ikhlas. Adapun yang dimaksud benar adalah mengerahkan usaha untuk melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan apa yang Allah larang; mempersiapkan diri untuk bertemu Allah, tidak berkecil hati dan tidak malas dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah; menahan diri dengan kendali takwa dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah; menjauhkan diri dari setan dengan senantiasa berzikir kepada Allah; dan istiqamah di atas itu semua sesuai dengan kemampuannya hingga masuk ke dalam kubur. Allah Ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar." (QS.At-Taubah:119)

"Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah..." (QS.Al-Ahzab:23)

"Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji.? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta." (QS.Al-Ankabut:1-3)

"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang-orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (QS.Al-Baqarah:177)

Apabila niat yang baik dan tekad yang tulus terhimpun pada diri seorang hamba maka akan memunculkan amal, dan amal akan diterima dengan syarat mengikuti tuntunan Nabi SAW. Sebab, beribadah kepada Allah Ta'ala harus sesuai dengan apa yang telah disyariatkan, yakni sesuai agama Islam, sebagaiman telah Rasulullah jelaskan baik melalui ucapannya, perbuatannya, maupun takrirnya. Didalam Shahihain diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah SAW. bersabda: "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari ajaran kami maka amalan tersebut tertolak."
Amal hanya akan muncul dengan ketulusan tekad dan hanya akan diterima dengan keikhlasan niat serta mengikuti sunnah. Fudhail bin Iyadh ketika mengomentari ayat 7 surah Hud yang berbunyi, "...agar Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya..." mengatakan bahwa maksudnya adalah melakukan suatu amal dengan ikhlas dan benar, yakni bersih dari noda-noda kesyirikan dan sesuai dengan sunnah.


























Referensi : 
Syarah 10 Muwashafat | Muhammad Husain Isa Ali Manshur
Hawa Nafsu adalah Bahaya Laten yang Harus Dilawan





Hawa Nafsu adalah Bahaya Laten yang Harus Dilawan




Allah menciptakan Nabi Adam beserta anak cucunya dengan menanamkan rasa suka dan benci dalam dirinya. Allah menciptakan mereka dapat merasa cinta dan benci, dan Allah telah menetapkan bahwa ikatan iman yang paling kokoh adalah mencintai dan membenci karena Allah semata.

Dalam hadits panjang yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda;
"Pada saat Allah menciptakan surga dan neraka, Allah mengutus Jibril ke surga dan berfirman, "Lihatlah surga dan segala yang telah Kupersiapkan bagi penghuninya." Maka Jibril pun datang melihatnya dan melihat segala hal yang telah dipersiapkan Allah bagi penghuninya. Kemudian Jibril kembali kepada Allah dan berkata, "Demi keagungan-Mu, setiap orang yang mendengar tentang surga pasti akan memasukinya, namun surga dikelilingi berbagai kesusahan." Allah pun berfirman, "Kembalilah ke sana dan lihatlah segala yang telah Kupersiapkan bagi penghuninya." Maka Jibril kembali melihatnya dan surga memang dikelilingi berbagai kesusahan, kemudian Jibril pun kembali kepada Allah. Kemudian dia berkata, "Demi keagungan-Mu, sungguh aku khawatir tidak ada satupun yang kuasa memasukinya." Kemudian Allah berfirman, "Pergilah ke neraka dan lihatlah kesana dan segala hal yang Kupersiapkan bagi penghuninya." Maka Jibril melihatnya dan segala hal yang telah Allah persiapkan bagi penghuninya, dilihatnya bahwa neraka saling bertumpuk satu sama lain. Jibril pun kembali kepada Allah dan berkata, "Demi kemuliaan-Mu, tidak mungkin seorang pun yang mendengar tentang neraka akan memasukinya, namun neraka dikelilingi berbagai syahwat." Allah pun berfirman, "Kembalilah kesana." Maka Jibril pun kembali kesana dan berkata, "Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku takut tiada seorang pun yang akan bisa selamat darinya."

Surga adalah surga, dan neraka tetaplah neraka. Namun pernyataan malaikat Jibril berubah ketika tahu bahwa surga dilingkupi kesusahan sementara neraka dilingkupi berbagai syahwat. Kesusahan dan syahwat adalah dunia dan seisinya, yang dengan kebijaksanaan-Nya Allah telah menentukan tidak satupun anak cucu Adam akan masuk surga atau neraka sebelum melewati dunia dengan segala syahwat dan kesusahannya. Siapa yang mampu mengokohkan akhlaknya sehingga dapat mengalahkan syahwat dan nafsunya maka dia akan menjadi orang yang paling beruntung di dunia maupun akhirat.
Jenis-Jenis Rezeki: Rezeki Bukan Cuma Harta




Jenis-Jenis Rezeki: Rezeki Bukan Cuma Harta

Jenis-Jenis Rezeki Bukan Cuma Harta. Kesehatan dan Ketenangan Batin Juga Rezeki.

KITA bekerja dan berdoa memohon rezeki (rizki, rejeki, rizqi).  Rezeki identik dengan materi atau harta. Padahal, rezeki bukan hanya berupa uang atau harta benda, namun juga ilmu, wawasan, keterampilan, kecerdasan otak, kefasihan bicara, dan kesehatan.

Udara (oksigen) yang kita hirup, kebutuhan air, cahaya matahari, hasil hutan, hasil bumi/tambang, atau apa pun yang dapat diambil manfaatnya adalah rezeki.

"Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya," tegas ulama kenamaan dari Mesir, Syekh Mutawalli Asy-Sya'rawi.

Itulah sebabnya, balasan Allah SWT atas sedekah uang yang dilakukan orang tidak harus berupa uang juga. Bisa jadi balasan itu berupa terhindarnya seseorang dari penyakit atau mara bahaya, atau perasaan tentram di dalam jiwa, atau kehidupan yang penuh dengan keberkahan dan kemanfaatan, dan lain-lain.

Hakikatnya yang disebut rezeki adalah sesuatu yang sudah kita rasakan manfaatnya atau sudah dipergunakan. Makanan yang ada di kulkas belum tentu rezeki kita, sebelum kita memakannya. Demikian pula minuman sebelum kita minum dan pakaian sebelum kita kenakan.

Uang yang ada di saku, dompet, atau rekening kita juga belum tentu rezeki kita, karena bisa saja hilang atau kita meninggal dunia sehingga uang itu berpindah kepemilikan, misalnya kepada ahli waris atau orang lain.

Uang baru disebut rezeki kita jika sudah dibelanjakan dan belanjaan itu sudah kita nikmati. Ia juga baru bisa disebut rezeki jika sudah kita belanjakan di jalan Allah dengan zakat, infak, dan sedekah.

Infak di jalan Allah termasuk Amal Jariyah berarti menjadikan uang itu sebagai 'rezeki dunia-akhirat' karena pahalanya terus mengalir hingga ke alam akhirat.

Yang pasti, Allah SWT menjamin ada rezeki bagi setiap makhluk-Nya (QS. 11:6). Tugas kita adalah ikhtiar, doa, dan tawakal untuk menjemput rezeki itu.

"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu" (QS. At-Thalaq:2-3).

 Wallahu a'lam bish-shawabi.*
Hukum Memakai Celana Panjang Bagi Wanita



Hukum Memakai Celana Panjang Bagi Wanita



Kelompok wanita ini tidak dijumpai Rasulullah di zamannya, Dapat dibilang ini termasuk Bid'ah (Sesat) Mereka berpakaian, tetapi pada hakikatnya telanjang. Para ulama menjelaskan, mereka berpakaian tetapi tipis, bahkan mendekati tembus pandang. Mereka berpakaian tetapi pakaiannya ketat sehingga membentuk lekuk-luku tubuh dan menggoda kaum laki-laki. Kelompok ini juga mendapatkan ancaman tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga.

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat; kaum membawa cambuk seperti ekor sapi, dengannya ia memukuli orang dan wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, mereka berlenggak-lenggok dan condong (dari ketaatan), rambut mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan sejauh ini dan ini.” (HR. Muslim)



Larangan Menyerupai Orang Kafir

Menyerupai orang-orang kafir adalah sesuatu yang terlarang dalam syariat, dan wanita yang memakai celana panjang adalah termasuk ciri wanita kafir. Karena wanita kafir biasa memakai itu, seperti yang kita lihat di Barat, terdapat dalil yang shahih tentang larangan tersebut dalam hadits-hadits berikut ini :

Dari Amr ibn Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

 لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى فَإِنَّ تَسْلِيمَ الْيَهُودِ الْإِشَارَةُ بِالْأَصَابِعِ وَتَسْلِيمَ النَّصَارَى الْإِشَارَةُ بِالْأَكُفِّ

“Bukan termasuk golongan kami siapa yang menyerupai kaum selain kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi, juga Nashrani, karena sungguh mereka kaum Yahudi memberi salam dengan isyarat jari jemari, dan kaum Nasrani memberi salam dengan isyarat telapak tangannya” (HR Tirmidzi, hasan)

Sebagian ahli ilmu berkata : Sungguh telah diutus Al Musthafa shallallaahu alaihi wa sallam dengan al hikmah, yaitu sunnah, syariat, manhaj yang beliau syariatkan manusia dengannya berupa perkataan dan perbuatan, untuk menjelaskan jalannya orang-orang yang dimurkai Allah (Yahudi) dan orang-orang yang disesatkan (Nasrani). Maka beliau perintahkan untuk menyelisihi mereka dalam ciri fisik dengan hadits ini. Mafsadat yang timbul dari penyerupaan ini tidak nampak, yaitu bahwasanya kesamaan dalam hal fisik berpengaruh pada kecocokan antara dua belah pihak (yang menyerupai dan yang diserupai), dan ini kembali pada ada tidaknya kecocokan dalam hal akhlaq dan perbuatan, ini dampak konkritnya. Maka barangsiapa yang misalnya mengenakan baju seorang ulama, akan didapati pada dirinya sedikit kesamaan dengan ulama tersebut. Barangsiapa yang mengenakan bajunya pembunuh akan didapati dalam dirinya adanya ciri kesamaan berupa akhlaq, kebiasaan, dan kesamaan, kecuali dalam kondisi tertentu.




Larangan Menyerupai Lawan Jenis


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat lelaki yang berpakaian seperti model pakaian wanita dan (melaknat) wanita yang berpakaian seperti lelaki.” (HR. Abu Dawud no. 4098, Ahmad 2/325)






















Referensi : 
Al Lu'lu Wal Marjan
asysyariah.com
webmuslimah.com
muslim.or.id
10 Sifat yang Dibenci Allah SWT





10 Sifat yang Dibenci Allah SWT



Ulama ahli bijak, sebagaimana dikemukakan dalam kitab Nashaihul Ibad karya Imam Nawawi Al-Bantani,
 berkata: "Ada sepuluh sifat yang dibenci Allah, yang timbul dari sepuluh macam orang, yaitu:


1. Sifat bakhil (kikir, pelit) orang kaya. 

Terlalu sayang sama harta, sehingga pelit banget. Dia lupa harta itu bisa diambil Sang Pemilik Hakiki, Allah Swt, kapan saja. Dia lupa, harta itu justru menjadi sarana ibadah harta --zakat, infak, sedekah, membantu kaum dhuafa, mendukung dakwah, dll.


2. Kesombongan orang fakir.

Orang kaya sombong bisa dibilang "normal", tapi kalau orang fakir sombong? Termasuk sombong (takabur) adalah tidak mau menerima kebenaran, tidak mau menerima nasihat, dan tidak mau berdoa kepada Allah SWT.


3. Ketamakan ulama.

Ulama harus memberi teladan kepada umat Islam untuk bersikap sederhana, tidak rakus atau tamak. Ulama merupakan tokoh panutan umat.


4. Tidak punya rasa malu yang timbul dari kaum wanita.

Kaum wanita yang tidak punya rasa malu misalnya yang tidak menutup aurat, tidak berbusana Muslimah.


5. Cinta dunia orang tua renta (kakek-kakek).

Orang yang sudah tua, mestinya lebih tekun beribadah, bukan mencintai dunia (hubbud dunya) dalam pengertian lebih mengutamakan kehidupan dunia ketimbang akhirat.


6. Kemalasan yang timbul dari anak muda (kaum remaja).

Anak muda mestinya punya semangat lebih ketimbang orang tua. Masa muda masanya berapi-api untuk menimba ilmu dan keterampilan demi masa depan, juga dalam hal ibadah.


7. Kezhaliman penguasa.

Pejabat korup, menyalahgunakan kekuasaan, hanya memikirkan kekayaan, membela kelompoknya saja, dan tidak mengutamakan kepentingan rakyat adalah pejabat yang zhalim (aniaya).


8. Pengecut yang timbul dari anggota pasukan perang.

Pasukan jihad tidak boleh takut apa pun. Kematian bahkan menjadi hal yang dirindukan, yaitu mati syahid dengan imbalan kontan berupa surga.


9. Ujub yang timbul dari kalangan orang-orang zuhud.

Orang zuhud artinya tidak terlalu memikirkan kesenangan duniawi. Ia fokus beribadah. Jikapun kaya, kekayaannya untuk beribadah. Namun, terkadang orang zuhud merasa lebih mulia ketimbang orang lain sehingga muncul sikap ujub, berbangga diri.


10. Riya' yang timbul dari kalangan ahli ibadah.

Riya' adalah sikap ingin dipuji atau dilihat orang lain. Ibadah harus ikhlas, hanya untuk Allah SWT, bukan mencari pujian orang. Riya' termasuk syirik kecil, karena menyekutukan Allah dalam ibadahnya. Wallahu a'lam.*

















Kenapa sih tidak boleh memunculkan Wajah di Sosmed Bagi Wanita.?






Kenapa sih tidak boleh memunculkan Wajah di Sosmed Bagi Wanita.?

Sosial media belakangan ini semakin banyak dan berkembang seiring kemajuan teknologi. Tapi sosial media menjadi salah satu pelopor untuk merusak akidah dalam Islam.
Pertanyaannya, untuk apa dan untuk siapa sih anda pajang foto di media sosial? Apa susahnya sih ganti foto profil dengan tanpa memperlihatkan tubuh dan wajah anda? Tentu ini semua akan menjadi mudah jika anda memiliki kesadaran mengenai dampak yang akan ditimbulkan oleh foto-foto anda. Ini merupakan perkara mudah namun dampaknya besar karena anda telah ikut menyelamatkan pandangan dan hati laki-laki dari dosa dan maksiat.
Kalau dikatakan, “salah laki-lakinya kenapa dia tidak menjaga pandangannya”: maka dikatakan bahwa secara normal laki-laki tertarik dengan wanita dan dia akan mencari cara untuk menuntaskan hasratnya tersebut. Ketika dia digoda dengan gambar wajah akhwat yang ditampilkan secara jelas maka otomatis dia akan terfitnah.


Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu‘anha, beliau berkata,

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, “wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Daud 4140, dalam Al Irwa [6/203] Al Albani berkata: “hasan dengan keseluruhan jalannya”)


Dalil mengenai menjaga pandangan dan kemaluan bagi pria dalam QS.An-Nur[24]:30

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".


Dalil agar wanita menjaga pandangan, memelihara kemaluan dan jangan menampakkan auratnya dalam QS.An-Nur[24]:31


وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Dalil untuk tidak bertabaruj seperti wanita kafir dalam QS.An-Nur[24]:33

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.


Wahai Ukhti yang masih suka memperlihatkan wajah ataupun auratnya di sosmed dan dimanapun, bantulah para lelaki menjaga pandangan nya. Allah SWT sendiri yang menyuruh, bukan saya atau pun siapa pun. Bukankah kamu seorang Muslimah.? Patuhi dan Taatilah,
Dalil mengenai hendak nya bertobat dalam QS. An-Nisa[4]:27

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا

Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).

Akidah kita sudah lama rusak dan ketika kita hendak kembali mengikuti perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW banyak yang merasa kita adalah orang aneh dan banyak yang mencemooh. Tapi beranilah.! Bagaimana bisa kamu takut, sedangkan kamu pengikut kebenaran. 
Dalil mengenai hendaknya orang-orang beriman untuk masuk islam secara keseluruhan.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

















Konsisten dalam Bersikap



Konsisten dalam Bersikap

Jika berada dalam kebenaran secara pasti, maka jangan biarkan musuh anda mendapatkan kelemahan anda dalam kata-kata. Pastikan sikap anda dan pangkaslah hasrat musuh dalam menanti kesalahan anda.

Contoh dari sikap ini adalah sikap para tukang sihir Fir'aun ketika mereka beriman,
"Putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya memutuskan di dunia saja." (QS. Thaha:72)


Allah berfirman,
"Jika berpalingnya mereka terasa berat bagimu, dan engkau bisa membuat lubang di bumi dan membuat tangga di langit, (lakukanlah) di hadapan mereka sebagai mukjizat. Jika Allah mau, maka Allah akan kumpulkan mereka dalam hidayah. Oleh karena itu, jangan engkau menjadi termasuk orang-orang yang bodoh." (QS.Al-An'am:35)



Dari Ibnu Abbas r.a,"Musailamah al-Kadzab datang pada masa Rasulullah s.a.w dan dia berkata dihadapan beberapa orang dari kaumnya, 'Jika Muhammad menyerahkan jabatannya kepadaku setelah dia, aku akan mengikutinya.' Kemudian Rasulullah datang kepadanya bersama Tsabit ibn Qais ibn Syammas. Di tangan beliau terdapat sepotong pelepah kurma dan beliau berhenti di hadapan Musailamah yang sedang bersama pengikutnya. Beliau berkata kepada Musailamah, 'Jika engkau meminta kepadaku potongan ini, aku tidak akan memberikannya kepadamu dan hukum Allah tidak akan luput darimu. Jika engkau menentang kebenaran, sungguh Allah akan menyiksamu. Aku telah diperlihatkan dalam mimpi tentang engkau. Inilah Tsabit yang menjawab kepadamu dariku.' Kemudian Rasulullah pergi meninggalkannya. Aku (Ibnu Abbas) bertanya tentang ucapan beliau (aku telah diperlihatkan dalam mimpi tentang engkau). Abu Hurairah r.a mengatakan kepadaku bahwa Rasulullah berkata, ' Ketika aku tidur, aku melihat dua gelang emas di tanganku. Dua gelang itu menyedihkan aku.  Maka di dalam mimpi aku diwahyukan untuk meniup keduanya. Ketika aku meniupnya, keduanya terbang . Aku menakwili dua gelang itu sebagai dua orang pendusta yang keluar setelah aku. Salah satu nya adalah al-Unsi dan yang lainnya adalah Musailamah'." (HR.Bukhari & Muslim)


Allah berfirman,
"Sesungguhnya perumpamaan Isa dihadapan Allah seperti perumpamaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah kemudian berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah ia. Kebenaran adalah dari Tuhanmu, maka jangan jadi orang yang ragu. Jika ada orang yang menentangmu berkenaan dengan penciptaan Isa, setelah pengetahuan itu datang kepadamu, katakanlah, 'Kemarilah, kami ajak anak-anak kami dan anak-anak kalian, istri-istri kamu dan istri-istri kalian, jiwa kami dan jiwa kalian, kemudian kita ber-mubahalah* untuk menjadikan laknat Allah jatuh kepada orang-orang yang berdusta'." (QS.Ali-Imran:59-61)


Contoh kekuatan sikap lainnya adalah ucapan Nuh a.s kepada kaumnya,
"Wahai kaumku, jika kalian merasa berat tinggal bersamaku dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, maka hanya kepada Allah aku bertawakal. Bulatkanlah tekad kalian dan kumpulkanlah teman-teman kalian (untuk membinasakan aku). Kemudian jangan kalian merahasiakan tekad kalian itu. Laksanakanlah dan jangan menunda-nunda!". (QS.Yunus:31)



Ibrahim a.s berkata kepada kaumnya,
"Aku tidak takut terhadap (bahaya dari) sembahan-sembahan yang kalian persekutukan dengan Allah, kecuali jika Allah menghendaki (dari bahaya itu)." (QS.Al-An'am:80)




*Note: Mubahalah adalah dua orang yang bertikai, masing-masing berdoa dengan serius agar laknat Allah jatuh kepada orang yang berdusta dari mereka.
























Referensi:

Fiqh al-Akhlaq wa al-Mu'amalat baina al-Mu'minin, Syaikh Musthafa al-'Adawy, Jakarta: Qisthi Press, cet. 1, 2005 M.
Jangan Menyerah dalam Berdoa




Jangan Menyerah dalam Berdoa


Jangan menyerah dalam berdoa, apabila doamu tidak kunjung dikabulkan. Mungkin Allah sedang menguji keteguhan mu dalam berdoa kepada-Nya. Berikut dalil dan ijtihad para ulama mengenai doa:

Dari Abdullah bin Amr bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Hati itu laksana wadah dan sebahagian wadah ada yang lebih besar dari yang lainnya, maka apabila kalian memohon kepada Allah, maka mohonlah kepada-Nya sedangkan kamu merasa yakin akan dikabulkan karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai”. [Musnad Ahmad 2/177, Mundziri dalam kitab Targhib 2/478, Al-Haitsami dalam Majma Zawaid 10/148]

Yang dimaksud dengan sabda Nabi : “dari hati yang lalai” adalah hati yang berpaling dari Allah atau berpaling dari yang dimintanya. [Mir’atul Mafatih 7/360-361].


Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa Imam Al-Madzhari berkata : Barangsiapa yang bosan dalam berdoa, maka doanya tidak terkabulkan sebab doa adalah ibadah baik dikabulkan atau tidak, seharusnya seseorang tidak boleh bosan beribadah. Tertundanya permohonan boleh jadi belum waktunya doa tersebut dikabulkan karena segala sesuatu telah ditetapkan waktu terjadinya, sehingga segala sesuatu yang belum waktunya tidak akan mungkin terjadi, atau boleh jadi permohonan tersebut tidak terkabulkan dengan tujuan Allah mengganti doa tersebut dengan pahala, atau boleh jadi doa tersebut tertunda pengabulannya agar orang tersebut rajin berdoa sebab Allah sangat senang terhadap orang yang rajin berdoa karena doa memperlihatkan sikap rendah diri, menyerah dan merasa membutuhkan Allah. Orang sering mengetuk pintu akan segera dibukakan pintu dan begitu pula orang yang sering berdoa akan segera dikabulkan doanya. Maka seharusnya setiap kaum Muslimin tidak boleh meninggalkan berdoa. [Mir’atul Mafatih 7/349].



Dari Abu Said bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Apabila seorang muslim berdoa dan tidak memohon suatu yang berdosa atau pemutusan kerabat kecuali akan diakabulkan oleh Allah salah satu dari tiga ; Akan dikabulkan doanya atau ditunda untuk simpanan di akhirat atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya”.[Musnad Ahmad 3/18. Imam Al-Mundziri mengatakannya Jayyid (bagus) Targhib 2/478].



























Referensi : 
almanhaj.or.id
Ini kesalahanmu tentang zina.!






Ini kesalahanmu tentang zina.!



Mungkin anda sudah tahu apa itu zina. Zina adalah perbuatan bersanggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan (perkawinan). Zina itu termasuk dosa besar dalam islam. Dan mengenai zina, ada sebuah ayat yang selalu kita dengar yaitu 

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS.Al-Isra'[17]:32)
Di ayat ini kita bukan hanya dilarang melakukan zina tapi juga dilarang "Mendekati Zina" . Masalah yang sering terjadi di kalangan masyarakat terutama remaja yang kurang kuat beragama adalah "Berpacaran", atau yang lebih miris nya lagi menyerang pada remaja yang tidak berpacaran tapi tetap Mendekati Zina yaitu dengan masih melakukan hal-hal yang diharamkan bersama yang bukan mahram nya. Pada hakikat nya ini sama saja. 

Mungkin anda akan bertanya, "Memang nya Mendekati Zina itu yang seperti apasih.? Kan kalau cuma Saling tatap-tatapan, jalan sana sini sama si doi kan gapapa, kan gak berbuat zina."

Hendaklah kamu memahami firman Allah:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (QS. An-Nur [24]: 30)



وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur [24]: 31)



Didalam kedua ayat ini kita sama-sama diperintahkan untuk menahan pandangan.


Kenapa pandangan pun harus dijaga.? Kan cuma liat si doi yang cantik/ganteng biar seger pikiran.


Ini adalah perintah Allah, kenapa tidak dipatuhi.? Islam kan.? :D

Banyak hal yang termasuk mendekati zina, contoh lainnya adalah Berpegangan tangan, berjalan bersama si doi yang bukan mahram, makan bareng, foto bareng, chatingan dan telponan bersama gebetan tersayang. Wihhh.

Mungkin kita tidak terjerumus dosa Zina itu sendiri tapi seiring berjalannya waktu. Dosa dosa zina kecil kita terus bertambah. Bukankah sebaik-baiknya Muslim adalah yang bisa menjaga diri dari dosa.?

Loh.? Pegangan tangan okelah itu zina, tapi kenapa makan bareng, jalan bareng juga termasuk mendekati zina.?

Mari kita pahami makna hadits berikut. Sebuah hadits Dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw telah bersabda


"Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin." (HR. Bukhari&Muslim)


Lalu hadits berikut

Setiap Bani Adam mempunyai bagian dari zina, maka kedua mata pun berzina dan zinanya adalah melalui penglihatan, dan kedua tangan berzina, zinanya adalah menyentuh. Kedua kaki berzina, zinanya adalah melangkah menuju perzinaan. Mulut berzina, zinanya adalah mencium. Hati dengan berkeinginan dan berangan-angan. Dan kemaluanlah yang membenarkan atau menggagalkannya." (HR.Bukhari)


Foto bareng juga gak boleh.?

Ya enggak dong, itu kan bisa menimbulkan fitnah. 

Ah, cuma jalan-jalan gitu aja kok. Gak ngapa2in. 

Kita simak lagi hadits berikut 

"Janganlah ada di antara kalian yang berkhalwat dengan seorang wanita kecuali dengan mahramnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

"Tiadalah seorang lelaki dan perempuan itu jika mereka berdua-duaan melainkan syaitanlah yg ketiganya." (Hadis Sahih)


Atau pengen dalil yang lebih menantang lagi.?

Ketika Imam Abu Bakar Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthusi rahimahullah menyebutkan berbagai macam bid’ah, beliau berkata: “Dan (termasuk bid’ah) keluarnya orang-orang laki-laki bersama-sama atau sendiri-sendiri bersama para wanita dengan berikhtilath”. [Kitab Al-Hawadits Wal Bida’, hal:151, Dar Ibnil Jauzi, cet:I, th:1411 H – 1990 M, ta’liq: Syeikh Ali bin Hasan Al-Halabi]

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syeikh rahimahullah berkata mengomentari hadits riwayat Abu Dawud di dalam Sunan, dan Bukhari di dalam Al-Kuna, dengan sanad keduanya dari Hamzah bin Abi Usaid Al-Anshari, dari bapaknya Radhiyallahu ‘anhu :


أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَهُوَ خَارِجٌ مِنَ الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ فَكَانَتِ الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِ


“Bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di saat beliau keluar dari masjid, sedangkan orang-orang laki-laki ikhthilath (bercampur-baur) dengan para wanita di jalan, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para wanita: “Minggirlah kamu, karena sesungguhnya kamu tidak berhak berjalan di tengah jalan, kamu wajib berjalan di pinggir jalan.” Maka para wanita merapat di tembok/dinding sampai bajunya terkait di tembok/dinding karena rapatnya”.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melarang para wanita ikhthilath di jalan karena hal itu akan menyeret kepada fitnah (kemaksiatan; kesesatan), maka bagaimana dikatakan boleh ikhthilath pada selain itu. [Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, tartib: Abu Muahmmad Asyraf bin Abdul Maqshud, II/561, hal: 568, Maktabah Adh-waus Salaf, Cet:I, Th: 1419 H].


Hadits ini mengisyaratkan bahwa ikhthilath (bercampur-baur) orang-orang laki-laki dengan para wanita di jalan itu adalah dengan berdeasak-desakan atau berjalan bersama-sama, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada para wanita agar berjalan di pinggir jalan.

Ath-Thabarani juga meriwayatkan dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau telah bersabda:




لأَنْ يَزْحَمَ رَجُلٌ خِنْزِيْرًا مُتَلَطِخًا بِطِيْنٍ وَ حَمَأَةٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَزْحَمَ مَنْكِبُهُ مَنْكِبَ امْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ
“Sungguh jika seorang laki-laki berdesakkan dengan seekor babi yang berlumuran tanah dan lumpur lebih baik daripada pundaknya berdesakkan dengan pundak wanita yang tidak halal baginya”.



Lalu telponan kok gak boleh juga.?



يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا
"Karena itu janganlah kamu (isteri-isteri Rasul) tunduk(yakni melembutkan suara) dalam berbicara sehingga orang yang dalam hatinya ada penyakit memiliki keinginan buruk. Tetapi ucapkanlah perkataan yang baik". (QS. Al-Ahzab: 32)
Lagian ngapain sih nelponin yang bukan mahram.? udah jelas loh istri Nabi saja yang pasti bertakwa dan dimuliakan oleh Allah dilarang berbicara dengan melembutkan suara dengan pria yang beriman lemah. Kok kamu malah berbuat demikian. 

Berbicara lah ketika ada kepentingan, lebih baik luangkan waktu untuk ngobrol bersama keluarga.


Lalu apa dong yang harus dilakukan.?
Jaga dirimu dari hal-hal yang akan dimurkai Allah, mari kita simak hadits-hadits berikut.

Al-Hakim telah meriwayatkan di dalam kitab Al-Mustadrak dari Ali Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:




يَا عَلِيُّ لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ
“Wahai Ali, janganlah engkau mengikutkan pandangan (pertama, yang tidak disengaja- pen) dengan pandangan (kedua, yang disengaja-Red), karena sesungguhnya engkau berhak pada pandangan pertama, tetapi tidak berhak pada pandangan yang akhir”



مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku tinggalkan fitnah (ujian; yang menyebabkan kesesatan) setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita”. [HR. Bukhari dan Muslim]

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kamu penguasa di dunia, kemudian Dia akan melihat bagaimana kamu berbuat, maka berhati-hatilah kamu terhadap dunia, dan berhati-hatilah kamu terhadap wanita, karena sesungguhnya fitnah (kesesatan) pertama kali di kalangan Bani Isra’il dalam perkara wanita”. [HR. Muslim]

Firman Allah: 

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَن نَّفْسِهِ وَغَلَّقَتِ اْلأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَاىَ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata:”Marilah ke sini”. Yusuf berkata:”Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukanku dengan baik”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung”. [QS.Yusuf:23]


Ah ogah ah, ribet banget sih. Ini itu dilarang

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS.Al-Ahzab:36)


يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS.An-Nur: 24)






















Referensi : 
Al-Quran
Al Lu'lu Wal Marjan
almanhaj.or.id
muslim.or.id
Segala sesuatu punya Hak





Segala sesuatu punya Hak





Tubuh punya hak, tamu punya hak, istri punya hak, mata punya hak atas anda. Berikut ini hadist yang berbicara tentang hal itu: Dari Abdullah ibn Amru ibn al-Ash r.a., "Aku berpuasa setiap hari dan membaca Al-Qur'an setiap malam. Berita tentang apa yang aku lakukan itu sampai kepada Rasulullah. Beliau berkata kepadaku, 'Aku mendengar bahwa engkau puasa setiap hati dan membaca Al-Qur'an setiap malam?' Aku menjawab, 'Benar, wahai Nabi Allah. Dan aku, dengan melakukan itu semua, hanya mengharap kebaikan.' Beliau berkata, 'Sebenarnya cukup bagimu puasa tiga hari dalam setiap bulan.' Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, aku mampu melakukan yang lebih baik dari itu.' Beliau berkata, 'Sesungguhnya istrimu punya hak, tamu-tamumu punya hak dan tubuhmu punya hak. Puasalah seperti puasanya Nabi Daud. Dia adalah hamba yang sangat rajin beribadah. 'Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana puasa Daud itu?' Beliau menjawab, 'Daud berpuasa satu hari dan tidak puasa satu hari. Bacalah (dengan mengkhatamkan Al-Qur'an satu bulan sekali. 'Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, Aku mampu melakukan lebih dari itu.' Beliau berkata, 'Bacalah dua puluh hari sekali.' Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, aku mampu melakukan yang lebih baik dari itu.' beliau berkata, 'Bacalah setiap tujuh hari sekali dan jangan tambah lagi. Sesungguhnya istrimu punya hak atas engkau dan tubuhmu punya hak atas engkau.' Aku tetap mendesak untuk berbuat lebih , namun aku ditekan. Beliau berkata kepadaku, ' Sesungguhnya engkau tidak tahu, bisa jadi umurmu akan panjang (dan engkau menjadi tua).' Kemudian aku melaksanakan petunjuk Nabi kepadaku. Ketika aku sudah tua dan lemah, aku merasa beruntung menerima kemurahan (rukhshah) Nabi Allah." (HR.Bukhari & Muslim)


Jangan sia-siakan semua waktumu untuk tamu-tamu, hingga anda lupa mensucikan diri, ibadah kepada Allah dan hak istrimu. Perbuatan seperti itu akan berpengaruh negatif bagi dirimu yang menyebabkan Anda menjadi orang yang berakhlak buruk. Perbuatan itu juga akan menciptakan konflik dengan istrimu dan menyebabkan kerasnya hati karena tidak pernah mendapatkan siraman rohani.


Jangan terlalu berlebihan dalam mencintai istri, karena akan membuat ibadahmu terbengkalai. Berapa banyak orang yang tergoda oleh istrinya hingga tidak sempat menghadiri jamaah dan majelis-majelis ilmu dan dzikir. Sebaliknya, berapa banyak istri yang lupa akan kitab Allah dan lupa akan shalat akibat suaminya.


Banyak pula orang yang menjadi bakhil akan harta karena lebih mementingkan diri sendiri dan anak-anaknya (padahal dia adalah orang yang berlebihan). Lucunya, banyak pula orang yang begitu rajin dalam ibadah dan menghadiri majelis-majelis ilmu dan dzikir, tapi dia hampir tidak bisa mengambil manfaat dari kegiatannya itu (ini terjadi karena tidak adanya perenungan dan penghayatan tentang apa yang mereka lakukan). Bahkan, akibat sikap berlebihan ini, mereka sering terjebak kepada rusaknya hubungan rumah tangga. Mereka cenderung mengabaikan hak-hak orang lain yang ada disekitar mereka dan terjadi konflik dengan mereka.


Bersikap moderat (tidak lebih dan tidak kurang) adalah tuntunan agama. Segala sesuatu memiliki hak: istri memiliki hak, tamu memiliki hak, jiwa memiliki hak dan Tuhanmu memiliki hak atas engkau. Oleh karena itu, tunaikanlah hak masing-masing.
Sebagaimana anda mendapatkan pahala dengan melaksanakan shalat, anda juga mendapatkan pahala dengan menghormati tamu dan mendapatkan pahala dengan menggauli istrimu. Disabdakan oleh Rasulullah SAW.: "Dalam (menggunakan) kemaluan salah seorang dari kalian (dengan sah) terdapat sedekah."
Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, apakah seseorang yang menyalurkan syahwatnya (dengan sah) mendapatkan pahala?" Beliau menjawab, "Bukankah kalian tahu, jika seseorang menyalurkan syahwatnya di jalan yang tidak benar, dia akan mendapatkan dosa? maka dari itu, jika dia menyalurkan syahwatnya di tempat yang halal (dengan istrinya), maka dia mendapatkan pahala." (HR.Muslim)
Berapa banyak konflik terjadi antar suami istri yang berujung pisah ranjang dan keengganan istri berdandan untuk suami nya. Hati-hatilah wahai hamba Allah!.


























Referensi : Fiqh al-Akhlaq wa al-Mu'amalat baina al-Mu'minin, Syaikh Musthafa al-'Adawy, Jakarta: Qisthi Press, cet. 1, 2005 M.
apa itu Jibt dan Thaghut




Apa itu Jibt dan Thagut.?

Sebelum membahas apa itu Jibt dan Thaghut. Saya kemukakan dahulu dalil mengenai Jibt dan Thaghut.


Al-Baqarah:256

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS.Al-Baqarah:256)

An-Nisa:51

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman." (QS.An-Nisa:51)

An-Nisa:60

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya." (QS.An-Nisa:60)

An-Nisa:76

"Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah." (QS.An-Nisa:76)


Al-Maidah:60

"Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?". Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus." (QSAl-Maidah:60)

An-Nahl:36

"Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS.An-Nahl:36)

Az-Zumar:17
"Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku," (QS.Az-Zumar:17)



Ada banyak dalil mengenai Thagut, tapi mengenai Jibt hanya beberapa yang membahasnya. Berikut saya terangkat beberapa pendapat ulama mengenai Jibt & Thaghut.



Thaghut

Kata Jabir, Thaghut-thaghut ialah para tukang ramal yang didatangi setan; pada setiap kabilah ada seorang tukang ramal.
Ibnu al-Qayyim -rohimahullah- berkata, "Thaghut adalah setiap tindakan yang melampaui batasan, baik terhadap sesuatu yang disembah, diikuti atau dipatuhi."


Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Menurut Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Thaghut adalah setiap yang disembah selain Allah, ia rela dengan peribadatan yang dilakukan oleh penyembah atau pengikutnya, atau rela dengan keta'atan orang yang menta'atinya dalam hal maksiat kepada Allah dan RasulNya.
Bentuk Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu thaghut itu amat banyak, tetapi pemimpin mereka ada lima:

1. Setan

Thaghut ini selalu menyeru beribadah kepada selain Allah. Dalil-nya adalah firman Allah سبحانه و تعالى,
"Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu." (Yaasiin: 60)

2. Penguasa zhalim yang mengubah hukum-hukum Allah Ta'ala

Seperti peletak undang-undang yang tidak sejalan dengan Islam. Dalilnya adalah firman Allah سبحانه و تعالى yang mengingkari orang-orang musyrik. Mereka membuat peraturan dan undang-undang yang tidak diridhai oleh Allah. Allah سبحانه و تعالى berfirman,
"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari'atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?" (Asy-Syuuraa: 21)

3. Hakim yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah

Jika ia mempercayai bahwa hukum-hukum yang diturunkan Allah tidak sesuai lagi, atau dia membolehkan diberlakukannya hu-kum yang lain. Allah سبحانه و تعالى berfirman,
"Dan barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir". (Al-Maa'idah: 44)

4. Orang yang mengaku mengetahui ilmu ghaib selain Allah

Dalam hal ini Allah سبحانه و تعالى berfirman,
"Katakanlah, 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah'." (An-Naml: 65)

5. Seseorang atau sesuatu yang disembah dan diminta pertolongan oleh manusia selain Allah, sedang ia rela dengan yang demikian

Dalilnya adalah firman Allah سبحانه و تعالى,
"Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan, 'Sesungguhnya aku adalah Tuhan selain Allah'. Maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zhalim." (Al-Anbiyaa': 29)   Setiap mukmin wajib mengingkari thaghut sehingga ia menjadi seorang mukmin yang lurus. Allah سبحانه و تعالى berfirman,
"Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah: 256)   Ayat ini merupakan dalil bahwa ibadah kepada Allah sama sekali tidak bermanfa'at, kecuali dengan menjauhi beribadah kepada selain-Nya. Rasulullah menegaskan hal ini dalam sabdanya,
"Barangsiapa mengucapkan, 'Laa ilaaha illallah', dan mengingkari apa yang disembah selain Allah, maka haram atas harta dan darahnya". (HR. Muslim)


Jibt

Dalam Kitab Tauhid oleh Syaikh Muhammad At-Tamimi
Imam Ahmad meriwayatkan,
Telah dituturkan kepada kami oleh Muhammad bin Ja'far, dari 'Auf, dari Hayyan bin al-'Ala', dari Qathan bin Qabishah, dari bapaknya (Qabishah) bahwa ia telah mendengar Nabi bersabda, Iyafah Tharq dan thiyarah adalah termasuk jibt
'Auf menafsiri hadits ini dengan mengatakan, Iyafah: meramal nasib dengan menerbangkan burung; dan tharq: meramal nasib dengan membuat garis di atas tanah. Adapun jibt, tafsirannya menurut Al-Hasan, "Ialah suara setan." 26.1
Hadits tersebut isnad-nya jayyid. Dan diriwayatkan pula dari Abu Dawud, An-Nasa'i dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dengan hanya menyebutkan lafazh hadits dari Qabishah, tanpa menyebutkan tafsirannya.



Jibt & Thaghut

Ibnu Hisyam berkata: Menurut orang-orang Arab jibt adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah, Sementara thaghut adalah segala sesuatu yang membuat orang berpaling dari kebenaran. Kata plural dari kata jibt ialah jubut, sementara kata plural dari kata thaghut adalah thawaghit

Ibnu Hisyam Berkata: Kami mendengar dari Ibnu Abu Najih berkata: bahwa jibt adalah sihir, sementara thaghut adalah setan.

Menurut 'Umar, Jibt ialah sihir, sedangkan thaghut ialah setan.

Terdapat beberapa tafsiran dari kalangan Salaf tentang makna kata Jibt, antara lain: berhala, sihir, tukang ramal, Huyai bin Akhthab dan Ka'ab bin Al-Asyraf (kedua orang ini adalah tokoh orang-orang Yahudi di zaman Rasulullah). Dengan demikian pengertiannya umum, namun mencakup makna itu semua, sebagaimana dikatakan oleh Al-Jauhari dalam Ash-Shahihah , Jibt itu adalah kata-kata yang dapat digunakan untuk berhala, tukang ramal, tukang sihir dan sejenisnya... Demikian halnya dengan thaghut, terdapat beberapa tafsiran yang menunjukkan pengertian umum. Antara lain: setan, setan dalam wujud manusia, berhala, tukang ramal, Ka'ab al-Asyraf. Ibnu Jarir Ath-Thabrani, dalam menafsirkan ayat ini, setelah menyebutkan beberapa tafsiran dari ulama Salaf, mengatakan, Jibt dan Thaghut itu ialah dua sebutan untuk setiap yang diagungkan dengan disembah selain Allah, atau ditaati, atau dipatuhi; baik yang diagungkan itu batu, manusia, ataupun setan.

































Referensi :
Ibnu Ishaq, Syarah & Tahqiq: Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Takhrij Hadis: Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Jakarta Timur: Akbarmedia, cet. 8, 1438 H / 2016 M.
Syuruthusy Syahadat, Syaikh Abdul Mun'im Musthafa Halimah, Jakarta Tengah: Inas Media, cet. 1, 2014 M
Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad At-Tamimi
Kumpulan Fatwa Lajnah Da'imah, Juz II, hal. 543. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq.
Zuhud & Wara Bedanya Apasih.?





Zuhud & Wara Bedanya Apasih.?



Zuhud adalah meninggalkan semangat untuk meraih hal yang tidak bermanfaat bagi akhirat seperti berlebihan dalam hal-hal yang mubah yang dapat membuat seseorang lalai dari ketaatan kepada Allah.


TANDA – TANDA ZUHUD
1. Dia tidak bergembira dengan adanya sesuatu dan tidak berduka cita dengan tidak adanya sesuatu. Ini merupakan tanda zuhud pada harta.
2. Sama padanya sikap antara orang yang mencelanya dan memujinya. Ini tanda zuhud pada kemegahan.
3. Kejinakan hatinya hanya kepada Allah Ta’ala.

Kapan dikatakan dia sebagai Zuhud yang sejati ?


1. Kalau dia sudah diberi kemampuan untuk menguasai/meraih/mendapatkan dunia namun dia tidak melakukan itu.
Atau,
2. Dunia sudah ada di tangannya namun dijadikan dunia tersebut sebagai sarana untuk akhirat.



Wara’ yang syar’i adalah meninggalkan hal-hal yang dapat membahayakan nasib kita di akhirat, termasuk di dalamnya adalah meninggalkan hal-hal yang haram dan syubhat karena perkara syubhat itu terkadang merupakan hal membahayakan nasib seseorang di akhirat. Kita belum memiliki sesuatu di hadapan kita, mau kita terjang, mau kita lakukan atau tidak, kita ragu. Dalam pengertian sufi Al Wara’ adalah meninggalkan segala yang didalamnya terdapat keragu – raguan antara yang halal  dan yang haram ( subhat ).

"Jangan-jangan itu termasuk yang syubhat."

"Jangan-jangan termasuk perkara yang haram."


Maka ditinggalkan, itulah yang disebut dengan wara'.


Namun perlu diketahui bahwa zuhud dan wara itu adalah sebuah tingkatan yang tidak dicapai oleh semua orang, Ibnul Qayyim dalam Al Fawaid mengatakan
والقلب المعلق بالشهوات لا يصح له زهد ولا ورع
“hati yang selalu terkait dengan syahwat tidak sah baginya zuhud dan wara"




























Referensi: 
Zuhud & Kelembutan Hati | Dr. Ahmad Farid
muslim.or.id
isfaroh.blogspot.co.id
Biasakan Berpikir Positif




Biasakan Berpikir Positif


Berpikir positif merupakan kunci keharmonisan hidup, sedangkan berpikir negatif merupakan 'virus sosial' yang memecah belah umat. Kita bisa bayangkan jika orang yang tinggal dalam satu rumah saling mencurigai. Kondisi rumah itu tidak akan nyaman. Para penghuninya gelisah, karena selalu merasa ada orang yang akan berbuat jahat kepadanya.

Apa yang ada dibenak anda, jika ketika anda sakit dan dirawat dirumah sakit, saudara anda yang menjenguk membawa jeruk yang asam atau busuk? Apakah anda berpikir bahwa orang itu menghina anda, ataukah sebaliknya, anda berpikir bahwa itu pemberian terbaik darinya? Jika anda berpikir bahwa ia sebenarnya ingin memberikan yang terbaik bagi anda, hanya saja ia mungkin hanya mampu memberikan itu, maka anda telah berpikir positif dengan menghargai apa yang ia bisa lakukan.
Allah mengingatkan kita untuk menjauhi prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka buruk adalah bagian dari dosa. Kita juga tidak boleh mengorek kesalahan orang lain, apalagi menggunjingkannya.

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS.Al-Hujuraat:12)

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengharuskan adanya empat orang saksi untuk membuktikan apakah seseorang itu melakukan zina atau tidak. Jika tidak terbukti maka orang yang menuduh mendapatkan hukuman dera. Ini karena Allah ingin mengajarkan kepada kita agar selalu berpikir positif terhadap saudara-saudara kita. Akan tetapi, bukan berarti kita tidak boleh lengah terhadap orang-orang yang ingin berbuat jahat kepada kita.


























Referensi : 
Amirulloh Syarbini & Sumantri Jamhari, Dicintai Allah Dirindukan Rasulullah, Jakarta: Qultum Media, cet. 1, 2013 M
Etika Berbicara dengan Wanita

Etika Berbicara dengan Wanita


Berbicara dengan wanita selayaknya dilakukan dalam kondisi mendesak; kondisi dimana kita dengan terpaksa harus berbicara dengan mereka, bukan dalam kondisi normal. Mereka adalah ujian dan kelembutan ucapanya sering kali membangkitkan hasrat lelaki yang didalam hatinya terdapat penyakit.

Rasulullah Shallalahu 'alaih wa Sallam bersabda,
"Setelah aku nanti, ujian yang paling berat bagi laki-laki adalah wanita." (HR. Bukhari & Muslim)

Rasulullah Shallalahu 'alaih wa Sallam bersabda,
"Hati-hatilah terhadap wanita. Ujian pertama yang ada di kalangan Bani Israel adalah wanita." (HR. Muslim)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik." (QS. Al-Ahzab:32)

Sering berbicara dengan kaum wanita dan kecenderungan mereka memanjakan ucapannya merupakan sumber ujian besar. Yang dimaksud bahwa wanita tidak boleh memanjakan ucapannya bukan berarti mereka harus berkata-kata dengan keras dan kasar. Yang diharapkan adalah bersikap apa adanya dalam berbicara tanpa memanjakan suara.

Bukankah Rasulullah Shallalahu 'alaih wa Sallam telah bersabda, "Barang siapa menemukan kejanggalan dalam shalat (jamaah), maka bertasbihlah (untuk mengingatkan). Sedangkan wanita mengingatkan dengan menepuk tangan." (HR. Bukhari & Muslim)

Jadi jika seseorang wanita menemukan kejanggalan di dalam shalat (jamaah) untuk mengingatkan kejanggalan itu dia disyariatkan menepuk tangan, bukan dengan ucapan (tasbih). Karena ucapan wanita bisa mengganggu laki-laki yang sedang shalat.

Jika ada kondisi dimana seorang laki-laki harus berbicara dengan wanita, maka lakukanlah sesuai kebutuhan dan harus menghindari keterlenaan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai kerusakan.

Disyariatkan untuk mengucapkan salam kepada wanita, selama tidak dikhawatirkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Tentunya tanpa berjabat tangan, sebagaimana telah kita ketahui. Ummu Hani pernah datang kepada Rasulullah Shallalahu 'alaih wa Sallam dan beliau berkata kepadanya, "Selamat datang, wahai Ummu Hani." (HR. Bukhari & Muslim)

Asma binti Amis pernah datang kepada Umar bin Khaththab dan terjadi perbincangan serius antara mereka berdua tentang beberapa persoalan. (HR. Bukhari & Muslim)

Allah berfirman, "Jika kalian meminta suatu barang pada mereka (wanita), maka mintalah dari belakang tabir. Yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka." (QS. Al-Ahzab:53)

Pertanyaan wanita kepada laki-laki tentang persoalan agama adalah dianjurkan. Ayat-ayat dan hadits -hadits yang mendukung anjuran ini sangat banyak sekali.

Dari Ummu Salamah r.a., "Ummu Sulaim berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak pernah malu dengan kebenaran. Apakah wanita wajib mandi jika dia mimpi basah?' Beliau menjawab, 'Ya, jika dia melihat air (dari kemaluannya setelah terjaga)'." (HR. Bukhari & Muslim)

Hindun binti Utbah pernah juga  bertanya kepada Rasulullah, " Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan itu pelit. Dia tidak memberikan nafkah yang cukup buat aku dan anakku, maka aku mengambil sesuatu darinya tanpa sepengetahuan dia." Beliau berkata , "Ambillah apa yang cukup buat engkau dan anakmu dengan cara yang baik (tidak berlebihan)." (HR. Bukhari & Muslim)





















Referensi :
Fiqh al-Akhlaq wa al-Mu'amalat baina al-Mu'minin, Syaikh Musthafa al-'Adawy, Jakarta: Qisthi Press, cet. 1, 2005 M.

Postingan Instagram

Wajib Baca.!

Jangan Sombong Dalam Keadaan Apapun

Sombong  adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, benih-benihnya kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat pertama , S...